Suatu hari seorang mahasiswa teologia datang kepada dosen pemimbing skripsinya. Dia datang dengan membawa berkas bab 1 yang dikembalikan kepadanya tanpa koreksi apa apa, kecuali sebuah tanda silang merah yang cukup besar. Bukannya mendapat jawaban atas pertanyaan yang berkecamu di kepalanya, mahasiswa tersebut malah mendapat'dampratan' dari dosennya. Kamu tidak tahu kalau sebentarlagi saya mengajar dan sekarang saya sedang persiapan!kalau kamu mau tahu apa maksud saya, nanti malam jam 24.00wib kamu pergi ke kapel dan berdoa di sana. besok siang kamu datang lagi!!!' demikian kata dosennya. Mulanya Mahasiswa tersebut ragu ragu, tetapi akhirnya dia percaya dan melakukan apa yang dikatakan dan melakukan apa yang dikatakan dosennya. Malam itu, tepat jam 24.00 wib, dia sudah berada dikapel untuk berdoa disana. Ternyata dosennya diam - diam juga datang kekapel tersebut 10 menit kemudian, tetapi tidak menemuinnya karena hanya ingin melihat apakah mahasiswa ini menurutui perintahnya atau tidak. Siang harinya mahasiswa ini datang lagi kedosennya. ' Sekarang kamu sudah siap menulis bab 1 karena satu hal yang penting dalam skripsimu tentang iman sudah kamu lakukan sendiri, yaitu ketaatan. Masuklah unsur ketaatan mulai dari awal skripsimu.' demikian penjelasan dosennya. Mahasiswa tersebut pulang ke asramanya dengan sukacita karena sudah memahami, bahkan sudah mempraktekan apa yang hendak di tulisnya.
Memang tidak mudah menghubungkan antara ketaatan dengan iman, sebab pada umumnya manusia cenderung menghubungkan ketaatan dengan ketundukan orang yang mempunyai posisi yang lebih rendah. Penulis kitab ibranidengan gamblang menjelaskan hubungan iman dengan ketaatan dengan mengambil contoh du pahlawan iman, Nuh dan Abraham . dikatakan, ' Karena iman, maka Nuh -- dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan -- dengan taat mempersiapkan bahtera ubtuk menyelamatkan keluarganya: Karena iman Abraham taat, Ketika ia dipanggil untuk berangkat kenegeri yang akan diterimanya menjadi milik pusaka, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.' ( Ibr 11:7-8 )


Selengkapnya...

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah”

Arti:

Komitmen adalah janji setia, tekad atau ketetapan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang disertai dengan tanggung jawab. Artinya, komitmen akan membuat suatu janji dapat dipercaya karena adanya rasa tanggung jawab dan tekad untuk melakukannya.

Dalam arti luas, komitmen menunjuk pada adanya tekad untuk setia pada sesuatu (organisasi, perusahaan, gereja dsb) atau seseorang (perkawinan).


Dasar:

Dasar dari setiap komitmen yg kita lakukan adalah karena cinta Tuhan yang telah mengasihi kita (Yohanes 3:16). Cinta itu akan membuat kita mengasihi Dia diatas segalanya dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22:37-40). Dengan dasar itulah, maka setiap orang seharusnya memberi diri untuk melayani Tuhan, dan bukan diatas dasar yang lain.


Menumbuhkan Komitmen:

1. Cinta

Cinta melahirkan komitmen. Cintai Tuhan, cintai gereja atau organisasi pelayanan dimana kita terhisab dan jadikan sebagai rumah kita. Maka cinta itu akan melahirkan komitmen untuk mencintai panggilan Tuhan dan pelayanan yang dipercayakan-Nya serta melakukan pelayanan dengan segenap hati (bukan lagi sekedar rutinitas atau pekerjaan pelayanan).

2. Tanggung Jawab

Rasa tanggung jawab merupakan ciri kedewasaan. Orang yang bertanggung jawab dengan pelayanan, pasti:

  • Tidak akan mau datang terlambat
  • Akan melakukan latihan/persiapan/doa sebelum melayani Tuhan
  • Akan memberi pelayanan yang terbaik kepada Tuhan melalui talenta yang Tuhan berikan.
Selengkapnya...

Langganan: Postingan (Atom)